Kelenteng Mak Co di Lasem

Kelenteng Mak Co Lasem terletak di Jalan Dasun No. 9. Kelenteng ini diperkirakan didirikan pada abad ke-15 dan mengalami pemugaran beberapa kali dengan mendatangkan tukang ukir dari Guang Dong (KwiTang) Tiongkok. Pemugaran terakhir dilakukan pada tahun 1868. Di kelenteng ini juga terdapat Kio ( Tandu) yang ukirannya amat halus dan indah untuk membawa Mak Co Thian Siang Sing Bo pada waktu Jut Bio atau kirab keliling di kota Lasem dan bila ada undangan Jut Bio di kota lain.

Nama Mak Co sesungguhnya merupakan nama lain dari seorang tokoh yang bernamaTian Shang Sheng Mu atau Thian Sang Sen Mu atau Thian Siang Sing Bo. Tokoh ini memiliki sebutan yang terkenal yaitu Ma Zu (Ma Couw) atau yang dalam lafal Jawa disebut Mak Co atau Tian Hou. Mak Co adalah seorang wanita yang pernah hidup di daerah Fujian, tepatnya di Pulau Mei Zhou (Meizhou) dekat Pu Tian. Nama asli Mak Co pada masa masih kecil adalah Lin Mo Niang (Lim Bik Nio).

Ayah Mak Co yang bernama Lin Yuan merupakan salah satu pejabat di Propinsi Fujian. Oleh karena kehidupannya yang sederhana dan gemar berbuat kebaikan, orang menyebut dirinya sebagai Lin San Ren, yang berarti Lin orang yang baik. Lin Mo Niang dilahirkan pada tahun 960 M yaitu pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zu dari Dinasti Song Utara. Selama satu bulan sejak dilahirkan, Mak Co tidak pernah menangis sama sekali. Oleh karena itu ayahnya memberi nama Mo Niang kepadanya. Kata “mo” berarti diam.

Sejak kecil Lin Mo Niang telah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Pada usia 7 tahun ia telah masuk sekolah dan semua pelajaran yang telah diterima tidak pernah dilupakan. Selain belajar, ia juga tekun sekali bersembahyang. Ia sangat berbakti pada orang tua dan suka menolong tetangga-tetangga yang sedang ditimpa kemalangan. Oleh sebab itu penduduk desa sangat menghormatinya.

Seperti diketahui bahwa Fujian merupakan kota pelabuhan di pantai selatan Cina yang memiliki hubungan dagang yang erat dengan daerah selatan (Nanyang) termasuk Nusantara. Kehidupan di tepi laut menempa dirinya menjadi seorang gadis yang tidak gentar menghadapi dahsyatnya gelombang dan angin taufan yang menghantui para pelaut. Selain itu, ia diberi kemampuan yang melebihi manusia bisa yaitu dapat menyembuhkan orang sakit. Kemahirannya dalam pengobatan ini menyebabkan orang-orang di desa menyebutnya sebagai ling nu (gadis mukjizat), long nu (gadis naga) dan shen gu (bibi yang sakti). Dalam legenda diceritakan bahwa pada usia 23 tahun, ia berhasil menaklukkan dua siluman sakti yang menguasai pegunungan Tao Hua Shan. Kedua siluman itu adalah Qian Li Yan dan Sun Feng Er yang memiliki kesaktian dapat melihat dan mendengat dalam jarak yang sangat jauh. Setelah dikalahkan akhirnya mereka menjadi pengawalnya.

Pada usia 28 tahun, yaitu pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zong, ia bersama ayahnya pergi berlayar. Akan tetapi di tengah laut perahu yang mereka naiki dihantam gelombang dan badai lalu tenggelam. Tanpa memperdulikan keselamatan dirinya sendiri, ia berusaha menolong sang ayah. Namun demikian akhirnya keduanya tewas bersama-sama. Sebuah versi lain mengatakan bahwa ia tidak tewas tetapi “diangkat ke langit” bersama raganya. Dikisahkan bahwa pagi itu, penduduk Meizhou melihat awan warna-warni sedang menyelimuti pulaunya. Di angkasa terdengar musik yang sangat merdu dan terlihat Lin Mo Niang perlahan-lahan naik ke angkasa untuk dinobatkan menjadi Dewi. Satu tahun kemudian, dengan tulus hati penduduk mendirikan sebuah kelenteng di tempat Lin Mo Niang diangkat ke surga. Kelenteng yang didirikan di Meizhou ini merupakan kelenteng Tian Shang Sheng Mu (Mak Co)  yang pertama di Tiongkok.

Pada masa Dinasti Song, perdagangan maritim dari Propinsi Fujian sangat berkembang. Akan tetapi para pelaut menyadari bahwa perjalanan di tengah lautan selalu penuh dengan mara-bahaya yang bisa mengancam setiap saat. Untuk memohon perlindungan dan keselamatan, mereka menganggap Lin Mo Niang sebagai Dewi Pelindung Pelaut. Oleh sebab itu para pelaut Cina selalu membawa ke mana-mana patung Mak Co. Keselamatan mereka dalam pelayaran dianggap sebagai anugerah dan perlindungan dari Dewi ini. Untuk selanjutnya kisah-kisah tentang pemunculan sang Dewi dalam memberi pertolongan pada para pelaut mulai satu-persatu tersebar.

Pada tahun 1122 M, Kaisar Song Hui Zong memerintahkan seorang menteri bernama Lu Yun Di untuk menjadi duta ke negeri Gaoli (Korea sekarang). Dalam perjalanan rombongan ini dihantam badai. Dari 8 buah kapal yang melakukan pelayaran, 7 buah tenggelam. Hanya kapal yang ditumpangi oleh Lu Yun Di saja yang terselamatkan. Sang Duta heran bukan main. Ia bertanya kepada para anak buahnya, siapakah Dewa yang menyelamatkan mereka. Di antara pengiringnya itu ada seorang yang kebetulan berasal dari Pu Tian dan biasa bersembahyang kepada Dewi Lin Mo Niang ini. Kemudian ia mengatakan pada Lu Yun Di bahwa mereka diselamatkan oleh Dewi Lin Mo Niang yang berasal dari Pulau Meizhou. Lu Yun Di lalu melaporkan hal ini pada Kaisar Song Hui Zong.

Sebagai rasa hormat, sang Kaisar memberi gelar “Sun Ji Fu Ren” kepada Lin Mo Niang dan sebuah papan bertuliskan “Sun-ji” yang berarti “pertolongan yang sangat dibutuhkan” yang merupakan tulisan tangan sang Kaisar sendiri. Papan ini kemudia dipasang di sebuah kelenteng di Meizhou.

Sejak masa Dinasti Song sampai Qing, tidak kurang dari 28 gelar kehormatan yang dianugerahkan oleh kerajaan kepada Lin Mo Niang. Gelar-gelar itu antara lain adalah Fu Ren (Nyonya Agung), Tian Hou atau Tian Fei (Permaisuri Surgawi), Tian Shang Sheng Mu (Bunda Suci dari Langit) dan Ma Zu Po (Bunda Ma Zu). Sejak jaman Song itulah, di kota-kota utama sepanjang pantai Tiongkok timur yang memanjang dari utara ke selatan seperti Dandong, Yantai, Qinhuangdao, Tianjin, Shanghai, Ningpo, Hangzhou, Fuzhou, Xiamen, Guangzhou, Macao dan lain-lain bermunculan kelenteng-kelenteng yang memuja Dewi Pelindung Pelaut ini.

Tian Shang Sheng Mu sudah menjadi pujaan para pelaut dari seluruh negeri Tiongkok, tidak lagi terbatas bagi mereka yang berasal dari Meizhou saja. Sudah menjadi kebiasaan pada saat itu, sebelum pelayaran dimulai akan diadakan sembahyang besar untuk memohon perlindunganNya. Di setiap kapal pun selalu disediakan ruang pemujaan untuk patungnya.

Gelar “Tian Fei” dianugerahkan kepada Tian Shang Sheng Mu oleh Kaisar Yong Le. Kira-kira pada masa Dinasti Ming, bersamaan dengan semakin banyaknya penduduk Propinsi Fujian yang pergi merantau, pemujaan terhadap Tian Shang Sheng Mu memasuki Pulau Taiwan. Kelenteng tertua Tian Shang Sheng Mu di Taiwan adalah terdapat di kota Magong, Kepulauan Penghu. Pada saat ini, di Taiwan terdapat tidak kurang dari 800 buah kelenteng Tian Shang Sheng Mu. Hampir dua per tiga dari penduduk Taiwan  memuja arcanya di dalam rumah. Kelenteng Tian Shang Sheng Mu yang paling ramai dikunjungi orang dan mungkin merupakan kelenteng terbesar di Taiwan adalah terdapat di Beigang. Patung yang dipuja di sini berasal dari Meizhou yang dibawa ke sana pada tahun ke-33 pemerintahan Kaisar Kang Xi.

Sementara itu, gelar kehormatan Tian Hou adalah juga anugerah dari Kaisar Kang Xi ini, karena ia dianggap telah melindungi keselamatan rombongan utusan kerajaan Qing yang sedang berlayar menuju Taiwan. Tiap tahun bertepatan dengan hari kelahirannya yang jatuh pada tanggal 23 bulan 3 Imlek, ratusan ribu warga Taiwan membanjiri kota ini untuk bersembahyang.

Bersamaan dengan menyebarnya para perantau Tionghoa ke berbagai wilayah, tempat sembahyang Tian Shang Sheng Mu juga bermunculan di banyak negeri. Di negeri-negeri yang banyak terdapat perantau dari Tiongkok seperti Jepang, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, Indonesia, Philipina dan lain-lain banyak dijumpai kelenteng dan patung Tian Shang Sheng Mu.

Di Jepang, pemujaan Tian Shang Sheng Mu diperkirakan mulai ada pada akhir dinasti Ming. Di salah satu kota kecil di Jepang yang dalam bahasa Tionghoa disebut Sui-hu, Tian Shang Sheng Mu telah dimasukkan dalam jajaran Dewata Jepang dan dipuja di kuil utama kota itu. Di Jepang terdapat tidak kurang dari 100 buah kuil Tian Shang Sheng Mu.

Pada tanggal 31 Oktober 1987, bertepatan dengan hari wafatnya Tian Shang Sheng Mu yang ke 1000, dilangsungkan upacara peringatan besar-besaran di Mei-zhou. Di antara khalayak yang berbondong-bondong itu terdapat beberapa ratus warga Taiwan yang mengkhususkan diri untuk hadir di situ, sekaligus melaksanakan keinginannya untuk mengunjungi dan bersembahyang ke kelenteng leluhur. Banyak di antara mereka yang membawa patung Tian Shang Sheng Mu dari Taiwan untuk disembahyangkan di sana dalam suatu upacara yang disebut “Tian Shang Sheng Mu pulang ke kampung halaman“. Tidak sedikit para pengunjung yang membawa pulang patung-patung Tian Shang Sheng Mu yang disediakan oleh kelenteng Tian Shang Sheng Mu untuk dipuja di Taiwan. Dalam kesempatan itu juga diadakan seminar yang dihadiri oleh kurang lebih 60 orang ahli sejarah untuk membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan pemujaan Tian Shang Sheng Mu. Pada acara itu juga diadakan upacara peletakan batu pertama untuk pembangunan patung peringatan untuk Tian Shang Sheng Mu, dan pembukaan selubung untuk miniaturnya di puncak bukit Mei-feng Shan di tengah pulau itu. Dua belas orang wakil perantau Tionghoa di luar negeri, yaitu dari Taiwan, Hongkong dan Macao melakukan acara timbun tanah untuk pondasi patung tersebut.

Pada tanggal 23 bulan 3 Imlek tahun 1989, bertepatan dengan hari kelahiran Tian Shang Sheng Mu, patung Dewi Pelindung Pelaut yang sangat dihormati itu sudah berdiri tegak di puncak Mei-feng Shan menghadap ke Selat Taiwan.

Tian Shang Sheng Mu selalu ditampilkan sebagai dewi yang cantik dan berpakaian kebesaran seorang permaisuri, dan dikawal oleh kedua iblis yang pernah ditaklukkan, yaitu Qian Li Yan (Si Mata Seribu Li) dan Sun Feng Er (Si Kuping Angin Baik). Qian Li Yan dapat melihat jauh sekali, berkulit hijau kebiru-biruan, mulutnya bertaring, senjatanya tombak. Sun Feng Er berkulit merah kecoklatan, mulutnya juga bertaring, bersenjata kapak bergagang panjang, dan dapat mendengar sampai jauh sekali.

Oleh karena banyak perantau dan pelaut dari Tingkok datang dan bertempat tinggal di Lasem, maka tidak mengherankan jika di kota ini juga didirikan kelenteng Mak Co, tepatnya di Desa Dasun. Selain itu sebagian besar orang Cina yang datang dan bertempat tinggal di Lasem hidup dari perdagangan dan pelayaran yang membutuhkan perlindungan dari Dewi Mak Co. Kelenteng ini didirikan diperkirakan pada abad 15 dengan mengalami pemugaran beberapa kali dengan mendatangkan tukang ukir dari Guang Dong (KwiTang) Tiongkok. Pemugaran terakhir dilakukan pada tahun 1868. Di altar Utama adalah Makco Thian Siang Sing Bo yang merupakan Dewata Pelindung Laut.

klenteng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *