Kelenteng Karangturi Lasem

Berdasarkan catatan sejarah yang dimiliki Yayasan Tempat Ibadat Tri Dharma Tri Murti Lasem, Kelenteng Poo An Bio dibangun kira-kira pada tahun 1740. Pada saat itu, pemukiman orang Tionghoa yang semula berada di sekitar jalan arteri barat-timur, termasuk di sepanjang sungai Dasun, mengalami perkembangan dan terus meluas ke selatan sampai Kali Kumendung, Desa Karangturi. Di desa itulah Kelenteng poo An Bio didirikan. Sebab keberadaan kelenteng tidak bisa dipisahkan dengan komunitas Tionghoa. Ketika para moyang orang Tionghoa merantau ke luar negeri, mereka selalu membawa arca Kong Tik Cun Ong. Orang Tionghoa percaya, Kong Tik Cun Ong adalah dewa yang suka melindungi orang yang sedang merantau. Banyak sekali rumah-rumah di Taiwan yang ditempati imigran asal Guangzhou (Coanciu) menyimpan arca tersebut.

Gambar Kelenteng Poo An Bio

klenteng2

klenteng3

Arca itu bukan hanya disimpan, melainkan juga dipuja. Demikian halnya yang dilakukan oleh imigran yang sekarang tinggal di Malaysia dan Indonesia (terutama Jawa), juga senang memuja arca Tik Cun Ong.

Dengan cara itu, setelah hidup mereka (para perantau) mapan ekonominya, akan mempunyai kesadaran untuk mendirikan kelenteng. Termasuk Klenteng Poo An Bio, Lasem, yang menurut catatan sejarah juga dibangun oleh para imigran yang merupakan nenek moyang warga Tionghoa Lasem.

Sebagian besar warga Tionghoa di Lasem merupakan keturunan para imigran dari Nanan (Lam Oa), Guangzhou, Provinsi Fujian (Hokkian). Dengan demikian, wajar bila generasi sekarang masih mengikuti jejak nenek moyangnya. Termasuk kesukaannya menyembah arca Kong Tik Cun Ong yang kini tersimpan di Kelenteng Poo An Bio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *