Klenteng Gie Yong Bio BabaganLasem

Klenteng ini terletak di desa babagan kec. Lasem. Kelenteng Gie Yong Bio sebelum berdiri di Jl Babagan terdapat di Jalan Raya Lasem. Menurut ceritera orang tua-tua di Lasem dan yang pernah  membaca  buku  tentang  kepahlawanan    2 orang Cina di Lasem dengan petilasan Kelenteng Babagan Lasem ini yang diberi nama GIE YONG KONGCO yang berarti Kakek Nan Gagah Perkasa. Adalah sebagai berikut :

Pada waktu Kompeni berada di Semarang, di Lasem terdapat Cina-cina tokoh perang yang bernama Tan Pan Tjiang dan Oei Ing Kiat ( dalam buku Babad Tanah Jawa disebut Encik Macan dan Muda Tik ). Kedua orang ini adalah sebagai orang pembuat genteng di desa Klotok. Melihat tingkah laku Kompeni Belanda yang sewenang-wenang memulangkan orang-orang Cina ke Tiongkok kembali dan membuang mereka kelaut, maka keduanya mengangkat senjata melawan Kompeni. Kejadian diperkirakan pada tahun 1742 (Perang Kuning). Pada saat ia mengangkat senjata ini disebut Perang Godou Balik. Yaitu 3 km dari Lasem ada desa Godou. Hal ini terjadi dalam perjalanan dari Lasem ke Semarang. Sampai  di Semarang mengalami kekalahan dan mundur di Mondoliko ( Tanjung Welahan ) kedua pahlawan ini gugur.

Cerita selanjutnya adalah kakak Tan Pan Tjiang yang bernama Tan Kee Wie sebagai ahli ukir mendapat firasat dalam mimpi bahwa dikali Juana ada terapung 2 batang kayu. Kedua batang kayu ini tidak terambil oleh siapapun juga walaupun diinginkan, maka diperintahkan dalam mimpi itu agar Tan Kee Wie mengambil dan membuatkan patung untuk Tan Pan Tjiang dan Oei Ing Kiat sebagai peringatan anak cucunya pada kelenteng kecil menghadap ketimur. Dibangunlah klenteng di desa Babagan ini.

Klenteng ini adalah saksi betapa eratnya hubungan orang asli Indonesia/pribumi dengan orang Tionghoa.  Hubungan baik orang pribumi dengan orang Tionghoa di Lasem sangat berbeda dengan kota lain di Indonesia. klenteng ini dibuat tahun 1780 untuk menghormati 3 pahlawan yang berjuang melawan VOC di tahun 1742-1750, yaitu Oei Ing Kiat (Adipati Tumenggung Widyaningrat), Panji Margono dan Tan Kee Wie. Panji Margono, seorang pribumi, semasa hidup sampai sepeninggalnya dianggap sebagai penyelamat bagi warga Tionghoa. Panji Margono, mengajak orang-orang Pribumi menyelamatkan orang-orang Tionghoa yang saat itu diusir dan dibuang kelaut oleh VOC. Atas jasanya,  warga Tionghoa, membuat altar khusus untuknya di dalam klenteng ini. Inilah alasan mengapa hubungan persaudaraan antara pribumi dan Tionghoa sangat dekat di lasem.

klenteng4

Gambar Klenteng Tjoe An Kiong  Dasun Lasem

Klenteng yang dipugar terakhir kali tahun 1915 ini di sudut kiri dan kanan tembok, terlihat ukiran tembok sangat indah  membentuk sebuah cerita. Sayangnya sampai saat ini belum ada yang meneliti apa makna dari cerita tersebut. warna-warni kain berwarna merah yang terpanjang di depan altar dan sebagai aksen lampion/lampu di klenteng ini, merupakan warna merah menyala khas Tionghoa, yang warna tersebut diaplikasikan di kain batik khas Lasem. Dapat ditambahkan bahwa rumah dari Tan Kee Wie itu dahulu di Jalan Raya No.70  Lasem ” KAJAR MOTOR ” sekarang ini.

altar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *