SEJARAH BATIK LASEM

Menurut buku Pararaton & buku Negara Kertagama, Majapahit terdiri dari 11 kerajaan kecil yang salah satunya adalah LASEM & diperintah oleh seorang Adipati. Adipati Lasem menduduki jabatan penting sebagai Penasehat Raja dalam “Lembaga Pertimbangan Kerajaan”. Kerajaan Lasem memiliki pelabuhan yang berlokasi di Caruban & ditunjang dengan galangan kapal terbesar di P. Jawa (di Ds. Dasun).

Pada tahun 1335 Saka (1413 M), datanglah Bi Nang Un dalam rombongan Laksamana Cheng Ho. Melihat kesuburan, kemakmuran, keramahan & jiwa kekeluargaan masyarakat Lasem (ditambah banyaknya orang-orang Cempa yang hidup & mempunyai keturunan disana), Bi Nang Un meminta ijin menetap di Lasem.

Adipati Lasem (Pangeran Wijayabadra) mengijinkan Bi Nang Un tinggal. Bi Nang Un menjemput keluarganya dan membawa barang-barang yang belum ada di P. Jawa. Awalnya Bi Nang Un tinggal di Kemandung. Di tempat inilah NaLiNi memberi pelajaran cara membuat dompet dari bulu merak, tari menari dan membatik. Inilah cikal bakal pembuatan batik tulis Lasem….

Keberadaan batik Lasem tidak terlepas dengan sejarah kedatangan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1413. Dari buku Babat Lasem karangan Mpu Santri Badra pada tahun 1401 Saka (1479 M), kemudian ditulis ulang oleh R Panji Kamzah pada tahun 1858.  Dalam buku tersebut diriwayatkan bahwa anak buah kapal Dhang Puhawang Tzeng Ho dari Negara Tiong Hwa, Bi Nang Un dan istrinya Na Li Ni memilih menetap di Bonang setelah  di Bonang setelah melihat keindahan alam Jawa. Keindahan ini telah membuat hati suami-istri itu menikmati.

Nama suami Ni Li Ni ini, sekarang diabadikan dengan nama salah satu desa yang disebut dengan desa Biangun. Di tempat baru ini, Na Li Ni membatik dengan motif ornament burung hong, liang, bunga seruni, banji, dan mata uang. Warna batik faforitnya adalah warna khas daratan Cina  atau Tiong Hwa, yaitu merah darah ayam/getih pithik (bahasa Jawa ). Warna ni menjadi cirri khas batik Lasem. Warna abang getih pithik ini dihasilkan dari pewarna alam yaitu dari warna akar pohon mengkudu (pace). Warna merah yang khas ini telah menarik minat pembatik dari daerah-daerah lain untuk melakukan proses pewarnaan  atau pencelupan  untuk warna tersebut di Lasem. Bahkan ada batik yang terkenal dengan Batik Tiga Negeri, yang proses pewarnaannya dilakukan di tiga daerah yaitu untuk proses pewarnaan sogan dilakukan di Solo, proses pewarnaan merah di Lasem dan proses pewarnaan biru dilakukan di Pekalongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *