Teknologi Pembuatan

Proses pembuatan garam dari air laut adalah dengan cara, air laut dimasukkan ke peminihan [evaporating pond] dengan menggunakan pompa-pompa berkapasitas sekitar 1 m3 per detik per buahnya, tentu saja dengan head yang rendah – sekitar 2 meter saja. Agar menghasilkan garam dapur yang baik, maka proses kristalisasinya tidak boleh terjadi secara keseluruhan [total crystallization] – seperti halnya menguapkan air laut dalam satu cawan sampai airnya habis – , tetapi harus dibatasi pada zat-zat tertentu saja yang akan mengkristal [fractional crystallization]. Jika kita menguapkan air laut secara perlahan-lahan, maka yang terjadi adalah mengkristalnya [memisahkan diri dalam bentuk padatan dan mengendap] zat-zat yang memiliki tingkat kelarutan paling rendah, dan disusul dengan yang memiliki kelarutan agak tinggi. Secara berurutan, akan mengkristal CaSO4, NaCl dan kemudan garam-garam magnesium dan kalium. Dengan memisahkan tempat mengkristalnya CaSO4 dan membuang larutan yang sangat kaya dengan magnesium, maka kita akan memperoleh garam dapur yang relatif murni [99%].

Pembuatan garam, bisa dibagi dalam dua tahap. Yaitu tahap penguapan sebagian besar air laut hingga mencapai konsentrasi yang diinginkan, dimana cairan dengan konsentrasi tinggi tersebut, yang disebut air tua, siap meng-kristal. Tempat penguapan ini disebut paminihan dan di-Indonesiakan menjadi peminihan. Berikutnya, adalah tempat dimana kristalisasi akan terjadi, yang disebut meja-kristali-sasi atau meja saja. Sesuai dengan perbandingan air yang harus diuapkannya dan laju resapan air, perbandingan bisa berkisar antara 7:1 sampai 10:1.

Proses ringkasnya pembuatan garam dari air laut terdiri dari langkah-langkah: proses pemekatan (dengan menguapkan airnya) dan pemisahan garamnya (dengan kristalisasi). Bila seluruh zat yang terkandung diendapkan/dikristalkan akan terdiri dari campuran bermacam-macam zat yang terkandung, tidak hanya Natrium Klorida yang terbentuk tetapi juga beberapa zat yang tidak diinginkan ikut terbawa (impurities). Proses kristalisasi yang demikian disebut “kristalisasi total”.

  1. Penguapan air laut.  adalah menguapkan air laut sehingga mineral-mineral yang ada di dalamnya mengendap. Hanya saja mineral-mineral yang kurang diinginkan sedapat mungkin hanya sedikit yang dikandung oleh garam yang diproduksi.
  2. Lahan pembuatan garam dibuat berpetak-petak secara bertingkat, sehingga dengan gaya gravitasi air dapat mengalir ke hilir kapan saja dikehendaki.
  3. Peningkatan mutu garam. Mengendapkan Ca dan Mg terkadang digunakan dengan  menggunakan Natrium Karbonat atau Natrium Oksalat yang dikombinasikan dengan cara pengendapan bertingkat. Kalsium dan magnesium sebagai unsur yang cukup banyak dikandung dalam air laut selain NaCl perlu diendapkan agar kadar NaCl yang diperoleh meningkat. Kalsium dan magnesium dapat terendapkan dalam bentuk garam sulfat, karbonat dan oksalat. Dalam proses pengendapan atau kristalisasi garam karbonat dan oksalat mengendap dahulu, menyusul garam sulfat, terakhir bentuk garam kloridanya. Catatan: penambahan Natrium Karbonat atau Natrium Oksalat untuk mendapatkan kemurnian NaCl yang tinggi.
  4. Untuk skala kecil, bisa saja menggunakan tungku dan panci.

Tahapan Proses Pembuatan Garam

A. Pengeringan Lahan

  • Pengeringan lahan pemenihan.
  • Pengeringan lahan kristalisasi.

B. Pengolahan Air Peminian/Waduk

  • Pemasukan air laut ke Peminian.
  • Pemasukan air laut ke lahan kristalisasi.
  • Pengaturan air di Peminian.
  • Pengeluaran air garam (Brine) ke meja kristal dan setelah habis dikeringkan selama seminggu.
  • Pengeluaran Brine ke meja kristal dan setelah habis dikeringkan, untuk pengeluaran Brine selanjutnya dari peminian tertua melalui Brine Tank.
  • Pengembalian air tua ke waduk. Apabila air peminihan cukup untuk memenuhi meja kristal, selebihnya dipompa kembali ke waduk.

C. Pengolahan Air dan Tanah

  • Pekerjaan Kesap Guluk (K/G) dan Pengeringan :
  1. Pertama K/G dilakukan setelah air meja 4–6°Be (sekitar 1-2 hr).
  2. Kedua K/G dilakukan setelah air meja 18–22°Be dan meja di atasnya Dilakukan K/G dengan perlakuan sama (sekitar 20 hr).
  • Lepas air tua dilakukan pada siang hari dengan konsentrasi air garam 24–25°Be dan ketebalan air 3–5 cm (sekitar 30 hr).

D. Proses Kristalisasi

  • Pemeliharaan air garam dengan ketebalan air 3-5 cm
  • Aflak (perataan permukaan dasar garam)Normal
    0false
    false
    false

    IN
    X-NONE
    X-NONE

     

     

    /* Style Definitions */
    table.MsoNormalTable
    {mso-style-name:”Table Normal”;
    mso-tstyle-rowband-size:0;
    mso-tstyle-colband-size:0;
    mso-style-noshow:yes;
    mso-style-priority:99;
    mso-style-qformat:yes;
    mso-style-parent:””;
    mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
    mso-para-margin-top:0cm;
    mso-para-margin-right:0cm;
    mso-para-margin-bottom:10.0pt;
    mso-para-margin-left:0cm;
    line-height:115%;
    mso-pagination:widow-orphan;
    font-size:11.0pt;
    font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
    mso-ascii-font-family:Calibri;
    mso-ascii-theme-font:minor-latin;
    mso-hansi-font-family:Calibri;
    mso-hansi-theme-font:minor-latin;
    mso-ansi-language:EN-US;
    mso-fareast-language:EN-US;}

 

E. Proses Pungutan

  • Umur kristal garam 10 hari secara rutin
  • Pengaisan garam dilakukan hati hati dengan ketebalan air meja cukup atau 3 – 5 cm.
  • Angkutan garam dari meja ke timbunan membentuk profil (ditiriskan), kemudian di angkut ke gudang atau siap untuk proses pencucian.

F. Proses Pencucian

  • Pencucian betujuan untuk meningkatkan kadnungan NaCl dan mengurangi unsur Mg, Ca, SO4 dan kotoran lainnya.
  • Air pencucian garam semakin bersih dari kotoran akan menghasilkan garam cucian leboih baik atau bersih.

Persyaratan

    • Air garam (Brine dengan kepekatan 2o0-24 °Be
    • Kandungan Mg Normal
      0false
      false
      false

      IN
      X-NONE
      X-NONE

       

       

      /* Style Definitions */
      table.MsoNormalTable
      {mso-style-name:”Table Normal”;
      mso-tstyle-rowband-size:0;
      mso-tstyle-colband-size:0;
      mso-style-noshow:yes;
      mso-style-priority:99;
      mso-style-qformat:yes;
      mso-style-parent:””;
      mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
      mso-para-margin-top:0cm;
      mso-para-margin-right:0cm;
      mso-para-margin-bottom:10.0pt;
      mso-para-margin-left:0cm;
      line-height:115%;
      mso-pagination:widow-orphan;
      font-size:11.0pt;
      font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
      mso-ascii-font-family:Calibri;
      mso-ascii-theme-font:minor-latin;
      mso-hansi-font-family:Calibri;
      mso-hansi-theme-font:minor-latin;
      mso-ansi-language:EN-US;
      mso-fareast-language:EN-US;}

      ≤ 10 g/liter

a.       Proses Pungutan

·         Umur kristal garam 10 hari secara rutin

·        

Gambar 6 Kesap Guluk

Pengaisan garam dilakukan hati-hati dengan ketebalan air meja cukup atau 3–5 cm.

·         Angkutan garam dari meja ke timbunan membentuk profil (ditiriskan), kemudian diangkut ke gudang atau siap untuk proses pencucian.

b.      Proses Pencucian

·         Pencucian bertujuan untuk meningkatkan kandungan NaCl dan mengurangi unsur Mg, Ca, SO4 dan kotoran lainnya.

·         Air pencuci garam semakin bersih dari kotoran akan menghasilkan  garam cucian lebih baik atau bersih.

Persyaratan air pencuci :

üAir garam (Brine) dengan kepekatan 20–24°Be

Kandungan Mg ≤ 10 g/liter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *